Simpanlah Sejenak Part 2
Oleh Ana Muidah
Bel pulang sekolah berbunyi, aku mengemaskan buku-buku lalu
memasukkan ke dalam tas. Hari ini hati, pikiran, dan badanku terasa lebih lelah
dari biasanya maka aku bergegas menuju gerbang dan ingin cepat-cepat sampai ke
rumah. Tetapi saat aku berjalan di koridor terdengar sayup-sayup suara serak
nan nyaring memanggil namaku, “Titaaaaa!” ya, sudah kuduga suara itu pasti
berasal dari bibir mungilnya Gina.
“Ada apa Gin? Hari ini aku lelah banget kalau kamu mau
cerita bbm aku aja yaa nanti saat aku sudah sampai di rumah.”
“Yaah sebentar saja, aku ingin mengajakmu ke taman
sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu. Aku mohon, sebentar saja
kok tidak akan lama.” Paksa Gina kepadaku
“Kenapa tidak cerita di kelasku saja? Kenapa harus ke
taman? Seperti orang pacaran saja kita berdua.”
“Katanya kamu mau cepat pulang, yaudah nggak usah banyak
tanya langsung ikut aku saja.”
Entah apa yang akan dibicarakan Gina kepadaku, tingkahnya
sangat aneh bahkan lebih aneh dari biasanya. Sesampainya di taman aku melihat
ke sekeliling dan suasana taman terlihat sepi tidak seperti biasanya apa lagi
sudah jam pulang sekolah seperti ini.
“Ta, kamu duduk sebentar ya disini, aku mau beli minum
dulu.”
Aku menunggu Gina sendiri di bangku taman, sampai akhirnya
seseorang dari kejauhan menghampiriku. Dan seketika hatiku berdegup kencang
melihat ke arahnya, pikiranku melayang-layang tak terkendali, bibirku seolah
tak bisa diam meronta ingin tersenyum menyapanya.
“Hai, Ta! Kamu sendirian disini? Kemana sahabatmu yang
selalu menempel padamu bak perangko pada surat?” sapa Raffi dengan senyuman
memesona
“Emm hai Raff, iya aku sendirian. Iya tadi aku kesini
berdua sama Gina, tapi sekarang dia lagi beli minum.” Jawabku dengan nada
tersipu malu. “Raff, dari berita yang beredar itu aku minta maaf ya kalau kamu
jadi merasa risih mendengarnya.” Tambahku pada Raffi
“Berita yang mana Ta?”
“Emm yang itu Raff, yang tadi pagi heboh dibicarakan
teman-teman.” Jelasku gugup
“Yang mana sih?” desak Raffi seolah memancing untuk meminta
penjelasan
“Ituloh Raff, omongan teman-teman yang bilang kalau…..emm
itu….bilang kalau aku suka sama kamu…” menjelaskan malu-malu
“Ooh itu, iya gapapa Ta aku nggak merasa risih kok. Aku
kesini mau ngomong sesuatu ke kamu.”
“Mau ngomong apa Raff? Yaudah ngomong aja.”
“Sebenarnya aku ingin membicarakan ini sejak lama, tapi aku
tidak berani mengungkapkannya sampai akhirnya ada desas-desus di pagi hari. Aku
jadi memberanikan diri untuk meneruskan niat awalku. Mungkin bagi kamu ini
terlampau cepat, tapi aku juga sudah mengagumi kehadiranmu sejak lama. Ta, kamu
mau nggak jadi pacarku?” jelas Raffi sambil menyodorkan seikat bunga mawar yang
disembunyikan dari balik punggungnya
“Raff, aku bingung aku nggak tau harus berkata apa.
Entahlah, tapi aku senang mendengar perkataanmu. Emm… iya aku mau jadi
pacarmu.” Jawabku tersipu malu sambil meraih bunga mawar dari genggaman Raffi
“Ciyeeee Tita, Raffi akhirnya nggak diem-dieman lagi deh.
Coba berita ini nggak tersebar, mungkin perasaan kalian akan terkubur
dalam-dalam bersama gengsi hahaha.” Saut Gina dari balik pohon
Mungkin terkadang kecerobohan seseorang akan menghasilkan
sesuatu yang indah untuk orang lain. Baru kali ini aku merasa ingin berterima
kasih kepada Gina yang telah membocorkan
rahasiaku dan kepada teman-teman yang telah menyebarkan berita
tentangku. Hidup ini memang indah jika kita tidak terlalu menganggap
perkataan-perkataan orang lain menjadi beban pikiran.
No comments:
Post a Comment