Simpanlah Sejenak
oleh Ana Mufidah
Rahasia
memang sesuatu yang pribadi, sampai bermuara pada mulut seorang gadis yang
tidak bisa menjaga rahasia.
Aku mempunyai sahabat, ya seperti makhluk sosial pada
umumnya, mencari teman sampai merasa cocok dan akhirnya menaiki tingkat menjadi
sahabat karib. Gina adalah sahabat terbaikku. Di sekolah kami tidak sekelas,
tetapi saat bel istirahat berbunyi bila tidak ada tugas yang menuntut untuk
dikerjakan kami selalu duduk-duduk di pelataran kelas untuk bercerita dari
cerita sedih sampai yang membuat terbahak-bahak.
“Gin, aku mau cerita nih sama kamu” aku mulai membuka
percakapan.
“Yaudah cerita aja, kaku banget pake bilang-bilang dulu
biasanya juga langsung nyerocos” jawab Gina.
“Gin, aku suka sama Raffi.”
“Hah? Raffi teman sekelasku yang pendiam itu?”
“Iyaaa, aku jadi malu deh hehehe. Memang sih dia pendiam,
tapi dia kan pintar dan wajahnya juga lumayan manis. Apalagi kalau tersenyum,
wajahnya mengalihkan duniaku deh pokoknya hahaha”
“Kapan kamu mulai suka sama dia? Kok bisa sih?”
“Aku nggak tahu, perasaan ini tiba-tiba muncul dan rasanya
indah sekali seperti melihat pelangi setelah hujan gitu deh. Awalnya saat aku
di perpustakaan mencari inspirasi untuk membuat tugas puisi, aku sedang melamun
memikirkan puisi yg akan aku buat. Setelah aku tersadar dari lamunanku,
ternyata mataku memandang ke arah Raffi dan seketika jantungku berdegup kencang
lalu berbunga-bunga”
“Ahahaha cerita kamu seperti sinetron banget sih,
jangan-jangan kamu sering nonton sinetron jadinya kaya gini deh. Lalu bagaimana
reaksi Raffi saat melihat kamu memandangnya?”
“Enggak kok, yang korban sinetron kan kamu bukan aku. Nah
iya, justru aku tersadar dari lamunanku karena melihat senyumannya. Raffi
menyebut namaku lalu tersenyum, seketika aku tersadar dan jadi malu karena
tanpa sengaja melamun ke arahnya. Lalu aku senyum balik ke Raffi dan meminta
maaf karena tidak sengaja memandanginya.”
“Waaah suasana perpus yang tadinya sunyi sepi seperti
kuburan, pasti menjadi penuh bunga dan bentuk hati melayang-layang deh dalam
pandanganmu”
“Iya Gin, kamu bener banget. Saat itu rasanya ruang
perpustakan menjadi sangat indah”
Bel istirahat masuk berbunyi…
“Yaah Gin, udah bel masuk nih nggak seru banget. Nanti
ceritanya dilanjutin lagi ya di rumah.”
“Oke deh sip.”
Cinta memanglah sesuatu yang sangat indah, kehadirannya
bisa merubah kerasnya batu menjadi lembut seperti kapas. Mengubah seramnya
pemakaman menjadi indahnya taman bunga. Tetapi itu kalau cintanya sama-sama
dirasakan oleh 2 insan yang sedang dimabuk cinta, beda lagi kalau cintanya
hanya bertepuk sebelah tangan. Sedih memang, tetapi cinta memang tidak bisa
dipaksakan. Semoga saja rasa sukaku yang telah mendalam menjadi rasa cinta ini
kepada Raffi, tidak hanya bertepuk sebelah tangan.
Keesokan harinya di sekolah aku dibingungkan oleh anak-anak
ips yang melirik tersenyum ke arahku, hatiku bertanya-tanya “Apakah ada yang
salah dengan penampilanku? Mengapa mereka memandang ke arahku?” Aku
melanjutkan jalan menuju kelas, dari kejauhan terlihat gadis separuh baya
yang berpenampilan tidak terlalu rapih.
“Ginaaaaa! Apakah ada yang terlihat aneh dari
penampilanku?”
“Iyaaa ada yang aneh! Dari dulu penampilan kamu memang aneh
hahaha”
“Aah Gina, aku
serius! Ada yang aneh nggak?”
“Hahaha nggak ada yang aneh kok dari penampilan kamu.
Memangnya kenapa?”
“Serius nggak ada yang aneh? Lalu mengapa orang-orang
melirik ke arahku sambil senyum-senyum? Aku jadi bingung sendiri.”
“Iya serius kok tidak ada yang aneh, loh mana aku
tahu yaudah ah ayo kita ke kelas.” Desak Gina
Kebingunganku tak terjawab, pertanyaan-pertanyaan di
benakku berteriak-teriak seolah menuntut jawaban yang tak kunjung terpenuhi.
Dengan beban pikiran yang tersangkut aku berjalan santai menuju kelas, hingga
seseorang dari balik pintu kelas menghampiriku.
“Ciyeeee kamu suka
sama Raffi yaa? Akhirnya ada yang ketahuan juga suka sama cowok pendiam nan
ajaib itu” sambut Miranda dengan penuh semangat.
Aku berjalan melaluinya tanpa menggubris perkataannya
padaku. Dan sekarang beban di benakku bertambah akibat dari perkataan Miranda “Bagaimana
dia bisa tahu tentang itu? Siapa yang menceritakan padanya? Apakah Gina
membeberkan ceritaku kepada teman-teman?”
Bel istirahat yang aku tunggu-tunggu sejak tadi pagi
akhirnya berdentang, sesaat setelah guru keluar dari kelas aku bergegas menuju
pintu depan kelas Gina dan memanggilnya.
“Gina, kamu menceritakan tentang aku suka sama Raffi kepada
teman-teman? Mengapa kamu menceritakannya? Itukan rahasia kita berdua, aku
nggak tau lagi gimana cara nyembunyiin muka aku supaya nggak terlihat orang-orang.
Aku malu Gina, nanti apa yang dipikirkan orang-orang kepadaku.”
“Kok kamu jadi panik gitu sih? Iya kemarin aku bilang sama
Raffi bahwa ada yang suka padanya, tetapi aku tidak bilang kalau itu dirimu.
Setelah aku meninggalkan Raffi teman sebangkuku menanyakan siapa yang suka sama
Raffi lalu aku jawab orangnya adalah kamu, tapi aku udah bilang sama dia jangan
bilang siapa-siapa. Selanjutnya aku nggak tahu lagi kalau berita ini sudah
tersebar kemana-mana” jelas Gina
“Harusnya kamu tanya dulu sama aku boleh atau tidak
menceritakan hal itu sama teman kamu, sekarang kalau sudah tersebar seperti ini
aku kan jadi malu kalau ketemu sama Raffi. Memangnya kamu tidak bisa menjaga
rahasia? Simpanlah sejenak sesuatu yang kamu ketahui untuk dirimu sendiri,
jangan disebarkan ke yang lain. Paling tidak tanyalah dahulu padaku.”
“Iya, aku nggak sengaja. Maafin aku ya Ta, kamu kan tahu
sendiri aku susah banget memendam sesuatu. Aku nggak bermaksud untuk
menyebarkan rahasiamu kepada orang lain, apalagi kemarin kamu nggak bilang
bahwa ini rahasia, seandainya kamu memperingatkan kepadaku terlebih dahulu, aku
akan menjaga ini supaya tidak tersebar. Maafin aku ya Ta, aku benar-benar nggak
sengaja.” Jawab Gina dengan nada menyesal
“Aku jadi sedih mendengarkan penjelasanmu. Iya kamu udah
aku maafin kok, tapi jangan diulangi lagi ya Gin. Aku jadi nggak tega deh mau
marahin kamu, ekspresi kamu sedih banget sih jadi pengen nangis ngeliatnya
hehe”
“Tita kamu baik banget sih, aku emang nggak salah udah
menjadikanmu sebagai sahabat terbaikku. Tapi ada satu hal lagi, kemungkinan
besar saat ini Raffi sudah tahu bahwa kamu suka padanya.”
“Yasudah, nggak masalah kok toh udah banyak juga yang
tahu hal ini. Aku jadi berasa artis deh diomongin oleh seantero anak IPS gini.”
Tersenyum malu. “Aku balik ke kelas dulu ya Gin, udah mau bel masuk juga.”
Tambahku
Gina memang sahabat yang baik dan lugu, aku sangat
menyayanginya bahkan saat dia membuat kesalahan besarpun aku tak sanggup
memusuhinya. Terpaksa harus aku telan mentah-mentah semua rasa malu ini,
lama-kelamaan juga berita ini akan menghilang dengan sendirinya. Beda lagi
dengan rasa sukaku pada Raffi yang diam-diam semakin bertambah seperti celengan
ayam milik anak TK. Dari banyaknya orang yang membicarakan aku, mengapa
tidak ada semenitpun aku melihat Rafffi? Kemana dia? Apakah tidak masuk
sekolah? Atau bersembunyi dariku? Sudahlah, kalau jodoh juga nanti pasti
bertemu.
Cerita bersambung...