Tuesday, December 8, 2015

Bibliografi

Pengertian Bibliografi

Pengertian Bibliografi Menurut Ahli Bahasa Indonesia – Yang dimaksud dengan bibliografi atau daftar kepustakaan adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya, yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan atau sebagian dan karangan yang tengah digarap. Bagi seorang awam, bibliografi mungkin tidak penting artinya, tetapi bagi seorang sarjana, seorang calon sarjana, atau seorang cendekiawan, daftar kepustakaan itu merupakan suatu hal yang sangat penting.

Fungsi Bibliografi


Fungsi sebuah bibliografi hendaknya secara tegas dibedakan dari fungsi sebuah catatan kaki. Referensi pada catatan kaki dipergunakan untuk menunjuk kepada surnber dari pemyataan atau ucapan yang dipergunakan daiam teks. Sebab itu referensi itu harus menunjuk dengan tepat tempat, di mana pembaca dapat menemukan pernyataan atau ucapan itu. Dalam hal ini selain pengarang, judul buku dan sebagainya, harus dicantumkan pula nomor halaman di mana pernyataan atau ucapan itu bisa dibaca. Sebaliknya untuk sebuah bibliografi harus memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah, harian itu secara keseluruhan. Karena fungsi catatan kaki dan bibliografi seluruhnya tumpang tindih satu sama lain.

Di pihak lain bibliografi dapat pula dilihat dari segi lain, yaitu ia berfungsi sebagai pelengkap dari sebuah catatan kaki.

Unsur Bibliografi

Untuk persiapan yang baik agar tidak ada kesulitan dalam penyusunan bibliografi, tiap penulis harus tahu pokok-pokok mana yang harus dicatat. Pokok yang paling penting yang harus dimasukkan dalam sebuah bibiiografi adalah:
  • Nama pengarang, yang dikutip secara lengkap.
  • JudulBuku, termasuk judul tambahannya.
  • Data Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan keberapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
  • Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid, nomor dan tahun.
Ada penulis yang memberikan suatu daftar bibliografi yang panjang bagi karya yang ditulisnya. Namun untuk penulisan karya-karya pada taraf permulaan cukup kalau diusahakan suatu daftar kepustakaan dari buku-buku yang dianggap penting, dan sungguh- sungguh diambil sebagai pertimbangan atau dijadikan dasar orientasi bahan-bahan karya tulis itu.
Jika daftar bibliografinya lebih panjang, maka biasanya akan dibuat daftar berdasarkan klasifikasinya. Ada yang membedakan daftar yang hanya memuat buku, artikel majalah, artikel ensiklopedi, harian, dll. Ada juga yang membuat daftar berdasarkan kaitannya dengan tema yang digarap : buku-buku atau referensi dasar, bibliografi pelengkap.
Macam-macam Bibliografi
Terbitan bibliografi sering tidak menggunakan kata bibliografi, beberapa contoh ada yang menggunakan index, katalg, dan sebagainya. Namun pada hakikatnya terbitan yang dimaksud adalah sebagai bibliografi.
Macam-macam bibliografi, yaitu
  • Bibliografi universal termasuk katalog tercetak dari perpustakaan nasional yang besar
  • Bibliografi nasional
  • Bibliograi niaga, termasuk cantuman perdagangan buku, serta katalog niaga
  • Bibliografi selektif atau elektif
  • Bibliografi incunabula (buku langka)
  • Bibliografi karya anonim dan pseudonim, dll.
Penyusunan Bibliografi

Cara penyusunan bibliografi tidak seragam bagi semua bahan referensi, tergantung dari sifat bahan referensi itu. Cara menyusun bibliografi untuk buku agak berlainan dari majalah, dan majalah agak berlainan dari harian, serta semuanya berbeda pula dengan cara menyusun bibliografi yang terdiri dari manuskrip-manuskrip yang belum diterbitkan, seperti tesis dan disertasi. Walaupun terdapat perbedaan antara jenis-jenis kepustakaan itu, namun ada tiga hal yang penting yang selalu harus dicantumkan yaitu: pengarang, judul, dan data-data publikasi.

Cara Penyusunan Bibliografi
  • Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad
  • Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan abjad
  • Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan referensi, untuk referensi kedua dan berikutnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan
  • Jarak antara baris dengan baris untuk satuu referensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi
  • Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan kedalam sebanyak tiga atau empat ketikan
Contoh Penulisan Bibliografi

Penulisan bibliografi terdiri atas 1 (satu)  orang penulis
Contoh :
Keraf, Gorys. 1980. Komposisi. Ende : Nusa Indah Ibrahim, Nini. 2011. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: UHAMKA PRESS

Penulisan bibliografi terdiri atas 2 (dua) orang penulis buku
Contoh :
Arifin, E. Zaenal dan s. Amran Tasai. 1995. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta : Akademia

Penulisan bibliografi dengan penulis buku terdiri dari 3 (tiga) orang
Contoh :
Akhadiah, Sabarti, maidar G. Arsjad, dan Sakurta H. Ridwan. 2003. Pembinaan Kemampuan Manulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga

Penulisan bibliografi dengan penulis buku lebih dari 3 orang
Contoh:
Rani, Abdul dkk.2000. Analisis Wacana. Malang: Bayamedia


Referensi:

Friday, November 20, 2015

Ini Tentang Fara

Far, bangga nggak nama lo udah gue jadiin judul postingan? :)))


Fara - Ana

Faradila Rizki Amalia, lahir di Bekasi tanggal 26 September 1995. Sekian, segini aja gue cerita tentang dia.
Ahhahha nggak deng canda.

Awal peristiwa gue ketemu Fara waktu jaman SMP, momennya ngga enak banget, serius. Temen sekelas gue -sebut saja dia Anggrek- temenan sama Fara (gue belom kenal Fara) nah terus Anggrek ngajak gue main ke rumah Fara waktu itu jaman-jamannya masih naik sepedah -tapi gue ngga bawa sepedah, jauh- jadinya gue diboncengin si Anggrek. Hari itu matahari terik banget, sampe di rumah Fara kirain bakalan main di dalem, ternyata enggak, kami ngobrol di depan rumah di bawah mentari yang sedang ceria. Iya panas dan ngga enak, udah gue bilang tadi di awal. Oke skip~

Kelanjutannya pas udah SMA, kelas xi gue sebangku sama dia. Awalnya pesimis banget bakalan ngga cocok sama dia, karena awalnya keliatan pendiem dan nggak 'keibuan' ahahaha kenapa gue bahas keibuan? Karna chairmate gue sebelumnya keibuan nan penuh kasih sayang :)) Trus waktu itu dia duluan yang ngajak duduk semeja, waktu duduk kami masih diem-dieman gitu masih adaptasi jadi kaku kayak kanebo kering *ahlawasjokesnya* dan kayaknya dulu selalu gue duluan yang ngajak ngomong. Lama-lama kami mulai akrab, akrab banget, akrab banget banget, sampe yang kalo lagi pas pelajaran trus guru ngomong sesuatu yang menurut kami lucu...
Ana: *nengok ke Fara*
Fara: *nengok ke gue*
Kami: *ketawa tanpa sebelumnya ngomong sepatah katapun*

Kami nggak cuma berdua, pas udah saling akrab sama yang lainnya kami ngebentuk geng namanya anco -nggak usah nanya arti/kepanjangannya apa- isinya Ana, Fara, Amel, Dimas, Vindy, Iis, Della, Afri, berdelapan. Anco itu seru banget anak-anaknya, suka bikin berisik di kelas pas istirahat dan nggak ada malu-malunya sampe karaokean dengan suara yang keras, kami nonton film horror di laptop, terus webcam-an. Pokonya seru dan asyique banget masa itu.

Kelas xii kami dipisah-pisah kelasnya, gue mencar nggak bareng Fara tapi kalo istirahat masih suka makan bareng, gue nyamperin ke kelasnya. Waktu kelas xii gue berasa ngga punya temen -ini udah pernah dijelasin di postingan sebelumnya- jadi gue sering main ke kelas Fara. Sampe pas malem perpisahan gue juga nempelnya sama Fara, Vindy, Iis sampe ketua kelas gue bilang "Na, ini acara kelas solid dong mainnya sama temen sekelas jangan sama kelas sebelah mulu."

Setelah lulus SMA kita semua semakin mencar, Ana di Gunadarma, Fara di Perbanas, Iis & Afri di UI, Amel di UB, Vindy di Tarakanita, Dimas di Trisakti, dan Della gue lupa dimana *maaf Dell ._.v* Makin jarang ngumpul, komunikasi jarang banget juga, paling group rame kalo puasa dan lebaran :( Tapi alhamdulillah gue sama Fara tetep komunikasian hampir setiap hari. Ada aja yang diceritain nggak ada habisnya. Kami berdua juga masih sering pergi bareng, gue juga masih sering...
Ana: Far, gue mau main ke rumah lo
Fara: boleeeh
Ana: *15 menit kemudian* *mencet klakson motor*
Fara: Dih Na kok udah sampe?! Lu mah kebiasaan banget tau-tau muncul mendadak. Gue belom mandi >:(
Dan...
Ana: Far, pergi yuk
Fara: kemana?
Ana: nggak tau, browsing dulu deh
Fara: oke
Ana: udah nih, yuk gas
Far: yuk

Sampe sekarang kami deket banget, Fara itu hebat, entah hebat atau konyol pokoknya segala cerita genre apapun bakalan berakhir bikin ngakak. Dan kalo udah curhat, panjangnya udah kayak lagi nulis novel remaja :)) Gue bahagia banget, alhamdulillah bisa punya sahabat kayak Fara <3 Gue berharap kami bisa sahabatan sampe tua dan I wish your future husband is the right one cause he will be lucky to marry you, he will laugh til dead because of your jokes.

Deskripsi singkat tentang Fara:

  • Awalnya pendiem, sekarang out of control katanya dia begini karna gue yang nularin kegilaan, padahal engga, yaa semua orang tau laah gue pendiem (kalo lagi tidur & lagi sakit) hahaha.
  • Dermawati banget, karena kalo dermawan untuk cowok.
  • Cantik
  • Baik parah
  • Konyol, suka banget ngebanyol
  • Peka, penuh perhatian (kadang)
  • Kalo ketawanya udah heboh jadi cekukan dan susah berenti
  • Nggak bisa ngendarain motor
  • Lesung pipitnya dalem banget, kira-kira 3,5m dalemnya
Segitu aja ceritanya, ini pun banyak banget hahahahha. Yak kalo ada yang berminat, hubungi Ana aja melalui komen di bawah ini ;)
Sahabat selamanya! Hip hip???? Yeeayyyy!!

Tuesday, November 17, 2015

Tips Kesehatan Wajah

Cara Mengatasi Kulit Wajah Kering

Ladies, sudahkah kalian mengenali jenis kulit wajah kalian? Karena hal ini penting sekali diketahui sebelum memulai perawatan untuk wajah kalian. Manusia memiliki tiga jenis kulit, yaitu kulit wajah normal, kulit wajah berminyak, dan yang ketiga kulit wajah kering.

Pada artikel yang saya posting kali ini, akan membahas kulit wajah kering. Kenapa kulit yang kering harus dirawat? Karena apabila dibiarkan tanpa perawatan, kulit yang kering akan menyebabkan kulit kita mengalami cepatnya penuaan dini. Tentu saja kita para wanita tidak menginginkan hal ini terjadi, bukan?

Bagaimana cara mengetahui kulit wajah kita kering atau tidak? Yaitu tentu saja kita bisa mengkonsultasikan hal ini pada dokter kecantikan atau kita bisa mengecek sendiri dengan cara melihat wajah kita, adakah kulit yang mengelupas dan atau timbulnya kerutan-kerutan di area sekitar hidung dan bibir saat kita tersenyum.

Nah ladies, untuk mengatasi kulit wajah yang kering saya mempunyai resep masker alami menggunakan lidah buaya dan madu. Check this out!

1. Siapkan Lidah Buaya

Lidah buaya mempunyai banyak sekali manfaat, bukan hanya untuk membuat volume rambut kita meningkat tetapi bisa juga sebagai pelembab alami, kulit kusam, alergi kulit, dan regenerasi kulit. Caranya yaitu siapkan satu batang lidah buaya, cuci hingga bersih, potong menjadi dua lalu kupas sebelah bagian luarnya. Kemudian serut daging lidah buaya tersebut menggunakan sendok, wadahkan di piring atau mangkuk kecil. Setengah dari lidah buaya tadi bisa disimpan dulu dalam kulkas.

2. Campurkan Madu 

Campurkan 1/2 sdt madu ke dalam serutan lidah buaya tadi, aduk hingga merata. Apabila masker lidah buaya tersebut masih tersisa banyak, dapat dipakai lagi saat malam hari.

3. Gunakan Kuas

Oleskan masker lidah buaya secara merata pada wajah, hindari daerah mata. Gunakan kuas untuk maskeran dengan bulu kuas yang lembut.

4. Diamkan Selama 30 Menit

Diamkan masker lidah buaya selama 30 menit, agar masker dapat menyerap ke dalam lapisan kulit melalui pori-pori.

5. Basuh dengan Air Hangat

Setelah 30 menit, basuh wajah dengan air hangat. Caranya rendam handuk kecil pada air hangat lalu tutulkan handuk pada wajah hingga masker bersih dari muka Anda. Kemudian keringkan wajah dengan handuk bersih.

6. Pakai Minyak Zaitun

Gunakan minyak zaitun pada wajah setelah wajah Anda bersih dari masker tadi.

Gunakan masker secara rutin satu atau dua minggu sekali untuk hasil yang maksimal. Selain melembabkan wajah secara alami, masker lidah buaya ini juga bisa membuat wajah Anda terlihat bersih dan putih. Selamat mencoba!


Referensi:
1. http://www.nyunyu.com/main-article/detail/enam-cara-mudah-untuk-merawat-kulitmu
2. Pengalaman pribadi

Sunday, November 15, 2015

Karangan

Definisi Karangan

Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam satu kesatuan tema yang utuh. Atau rangkaian hasil pemikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang teratur.

Macam-macam Karangan

A. Karangan Narasi
     adalah karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.

       Ciri-ciri Karangan Narasi

  1. Menyajikan serangkaian berita atau peristiwa
  2. Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai akhir
  3. Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian
  4. Latar (setting) digambarkan secara hidup dan terperinci      

   Ada dua bentuk narasi, yaitu narasi sugestif dan narasi ekspositoris.

  1. Narasi Sugestif merupakan suatu rangkaian peristiwa yang disajikan sedemikian rupa sehingga merangsang daya khayal para pembaca. Menitikberatkan penggunaan kata-kata konotatif. Narasi  sugestif berupa wacana fiktif seperti dongeng, cerpen, novel, dan roman.
  2. Ekspositoris adalah bentuk karangan yang sebaliknya dari karangan narasi sugestif. Narasi   ekspositoris bersifat nonfiktif yang disajikan dengan bahasa denotatif dan tujuan utama bukan   menimbulkan daya imajinasi, melainkan menambah pengetahuan pembaca dengan pemaparan yang rasional. Narasi ekspositoris seperti sejarah, biografi, dan autobiografi.
B. Karangan Deskripsi
      adalah bentuk tulisan yang melukiskan objek yang sebenarnya dengan tujuan untuk memperluas 
      pengalaman dan pengetahuan pembaca.

     Ciri-ciri Karangan Deskripsi: 
  1. Melukiskan atau menggambarkan suatu objek tertentu
  2. Bertujuan untuk menciptakan kesan atau pengalaman pada diri pembaca agar seolah-olah mereka melihat, merasakan, mengalami atau mendengar, sendiri suatu objek yang  dideskripsikan
  3. Sifat penulisannya objektif karena selalu mengambil objek tertentu, yang dapatberupa  tempat, manusia, dan hal yang dipersonifikasikan
  4. Penulisannya dapat menggunakan cara atau metode realistis (objektif), impresionistis (subjektif), atau sikap penulis
Ada dua sikap yang dapat mempengaruhi pikiran penulis, yaitu sikap objektif dan sikap subjektif.

1. Subjektif (deskripsi realistis), sesuai dengan keadaan yang dilihatnya.
2. Objektif (deskripsi impresionistis), penulis turut menginterpretasi pandangan dirinya terhadap 
    benda yang dilukiskannya.

C. Karangan Eksposisi  
      adalah bentuk karangan yang memaparkan atau memberitahukan suatu informasi kepada          pembaca dengan tujuan memperluas wawasan pembaca tanpa ada pemaksaan.


     Ciri-ciri Karangan Eksposisi:
  1. Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya
  2. Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (data faktual)
  3. Tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak
  4. Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektiterhadap fakta yang ada
  5. Menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi atau tentang proses kerja sesuatu
Contoh karangan eksposisi di dalam media massa seperti pembentukan informasi terkini, tips,
dan opini. 


D. Karangan Persuasi
      adalah karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi pembaca.
    
     Ciri-ciri Karangan Persuasi:
  1. Terdapat himbauan atau ajakan
  2. Berusaha mempengaruhi pembaca 
     Tiga hal yang harus diperhatikan :
  1. Kredibilitas penulis;
  2. Kemampuan penulis menyugesti pembaca
  3. Bukti-bukti.
      Contoh : Persuasi iklan, persuasi politik, persuasi pendidikan.

E. Karangan Argumentasi
      adalah karangan yang bertujuan untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca meyakini kebenaran itu. Pembuktian memerlukan data dan fakta yang meyakinkan.
   
      Ciri-ciri Karangan Argumentasi:

  1. Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga kebenaran itu diakui oleh pembaca
  2. Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, tabel, gambar
  3. Dalam argumentasi pengarang berusaha mengubah sikap, pendapat atau pandangan pembaca
  4. Dalam membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan menjauhkan subjektivitas
  5. Dalam membuktikan kebenaran pendapat pengarang, kita dapat menggunakan bermacam-macam pola pembuktian

     Terdapat tiga inti karangan argumentasi :

  1. Bagian pendahuluan yang membahas pentingnya persoalan, lalu latar belakang historis, dan penetapan secara tepat titik ketidaksepakatan yang akan diargumentasikan.
  2. Bagian tubuh argumen : pembahasan masalah dengan menyajikan fakta-fakta yang dapat diuji kebenarannya dengan cara induksi, deduksi, analogi dll.
  3. Simpulan.

Sifat-sifat Karangan


A. Karangan Ilmiah
     adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum yang ditulis menurut metodologi dan penulisan yang benar.

    Ciri-ciri Karangan Ilmiah:

  1. Sistematis
  2. Objektif
  3. Cermat, tepat, dan benar
  4. Tidak Persuasif
  5. Tidak emotif
    Bentuk Karangan Ilmiah:
  • Makalah
  • Usulan Penelitian
  • Skripsi, dll

B. Karangan Ilmiah Populer (Semi Ilmiah)
     adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodologi penulisan yang benar.

    Ciri-ciri Karangan Ilmiah Populer:
  1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi
  2. Fakta yang disimpulkan subjektif
  3. Gaya bahasa formal dan populer
  4. Mementingkan diri penulis
  5.  Usulan-usulan bersifat argumentatif dan persuasif
    Bentuk-bentuk Karangan Ilmiah:
  • Artikel
  • Editorial
  • Opini
  • Tips, dll

C. Karangan Nonilmiah
     adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari.

    Ciri-ciri Karangan Nonilmiah:

  1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi
  2. Fakta yang disimpulkan subjektif
  3. Gaya bahasa konotatif dan populer
  4. Tidak memuat hipotesis
  5. Bersifat imajinatif
    Bentuk-bentuk Karangan Nonilmiah:

  • Dongeng
  • Cerpen
  •  Novel
  • Drama
  • Roman

Referensi:
1. Materi Power Point Bhs. Indonesia bu Rini Astuti S.I.KOM
2.http://semuapelajaransekolah.blogspot.co.id/2013/02/jenis-jenis-karangan-menurut-pengertian.html

Friday, October 9, 2015

Analisis Artikel Ekonomi

Kehidupan di Jakarta Merupakan Kehidupan Termahal di Dunia


Jakarta menempati peringkat kota paling mahal 180 di dunia untuk ekspatriat pada 2014, dibanding dengan 128 th. lalu, menurut suatu laporan yang launching pada Selasa oleh ECA, yang sediakan service untuk beberapa orang yang ditugaskan untuk bekerja di semua dunia. Dari 440 kota disurvey, Caracas, Venezuela tempati peringkat untuk yang paling mahal, untuk disebabkan dari inflasi tahunan seputar 80 %.

Nilai ganti rupiah adalah satu di antara th. lalu terlemah berkinerja mata uang di Asia. Mata uang Indonesia kehilangan 26 % pada dolar AS pada th. 2013, di dalam kecemasan perihal perlambatan perkembangan ekonomi serta harga bahan bakar yang lebih tinggi, namun sudah menguat seputar 3 % th. ini. Pada waktu yang sama, nilai ganti rupiah yang lemah sudah mendorong turun cost untuk ekspatriat pada beragam tingkatan.

Ekspatriat dibayar dalam dolar AS, serta itu yaitu besar untuk pendapatan mereka. Pendapat ekonom yang berbasis di Jakarta pada Standard Chartered. Depresiasi mata uang mempunyai efek yang besar pada ekspatriat.

Tetapi, diantara negara-negara Asia Tenggara utama, Jakarta adalah kota termahal ketiga, diikuti oleh Vientiane, Kuala Lumpur, serta Manila, menurut survey ECA. Singapura serta Bangkok yaitu dua kota paling mahal untuk hidup, sedang Surabaya yaitu yang termurah di lokasi itu.

ECA memakai apa yang diistilahkan untuk ”keranjang barang” untuk masing-masing kota yang disurvei, dengan memperhitungkan cost 130 keseharian item seperti makanan, baju, barang elektronik, minum, serta makan diluar. Digabungkan dengan fluktuasi mata uang lokal, masing-masing kota yaitu peringkat terbaik dengan cara global ataupun di dalam wilayahnya.

”Keranjang barang” Jakarta naik 8 % pada 2014, namun dipasangkan dengan penurunan yang penting dalam nilai ganti rupiah pada dolar, ibukota Indonesia sudah jadi lebih ekonomis untuk ekspatriat.

Ekspatriat seperti Kyle Larson, seorang Kanada yang tinggal di Jakarta serta bekerja di industri konstruksi, menyampaikan ia sudah rasakan nilai pendakian pendapatannya beberapa waktu terakhir, namun cost yang penting, seperti untuk perumahan serta pendidikan, terus.

”Perumahan yaitu yang paling besar tiada diragukan lagi,” kata Larson. ”Saya belum lihat tuan tanah turunkan harga mereka. Umumnya menginginkan Anda untuk membayar dua atau terkadang tiga th. di muka, serta itu benar-benar susah tiada suatu perusahaan di belakang Anda.” Perumahan di lokasi pusat usaha Jakarta bisa cost atas dari $ 1.000 per bln. untuk satu kamar apartemen.

Mereka yang hadir untuk tinggal di Jakarta dengan keluarganya mesti menyeimbangkan kuliah besar serta kuat untuk anak-anak mereka. ”Itu bisa menggerakkan Anda dimana saja dari $ 25.000 hingga $ 30.000 per th., juga lebih untuk anak-anak senior,” kata Larson.

Singapura, pusat keuangan di Asia, mempunyai cost hidup paling tinggi untuk ekspatriat di Asia Tenggara. Tingginya cost terbayar saat hadir ke mutu hidup, dimana Singapura tempati peringkat jauh diatas seluruh tetangganya, menurut suatu survey mutu hidup oleh Mercer, yang sediakan service sumber daya manusia.

Kedekatan ke Singapura serta cost hidup yang rendah yaitu apa yang mendorong banyak ekspatriat tinggal di negara-negara tetangga seperti Indonesia serta Malaysia. Dalam pertempuran untuk ekspatriat satu diantara perbedaan utama pada Jakarta serta Kuala Lumpur yaitu transportasi umum. ”Cuma saja tak terbaik di kembangkan lagi di Jakarta,” kata Eric dari Standard Chartered.

Di mana Jakarta jatuh pendek dalam transportasi mereka bikin toleransi budaya. ”Beberapa orang Indonesia bersedia untuk beradaptasi dengan budaya asing,” kata Eric.

Tokyo peringkat 11 untuk yang paling mahal di semua dunia, hingga yang paling mahal di lokasi Asia-Pasifik, menurut survey ECA.

Tinggal di luar negara asal mereka, ekspatriat mesti berasimilasi dengan budaya serta belajar bahasa untuk sukses, kata Eric.

”Apapun uang cost, umumnya ekspatriat tak mengeluh perihal cost hidup. Kami menghormati segalanya besar yang ada di Indonesia, serta tersebut kenapa kita menentukan untuk tinggal disini,” kata Larson. ”Kau seperti jadi Indonesia. Ia memperoleh dalam darah Anda serta Anda tidak mau meninggalkan.“



Analisis Artikel

Paragraf 1 merupakan paragraf deduktif, hal ini dibuktikan dengan adanya kalimat yang bersifat umum di awal paragraf, yaitu

           Jakarta menempati peringkat kota paling mahal 180 di dunia untuk ekspatriat pada 2014, dibanding dengan 128 th. lalu, menurut suatu laporan yang launching pada Selasa oleh ECA, yang sediakan service untuk beberapa orang yang ditugaskan untuk bekerja di semua dunia.”

Paragraf 2 merupakan paragraf induktif, hal ini dibuktikan dengan adanya kalimat yang bersifat umum di akhir paragraf, yaitu

            “Pada waktu yang sama, nilai ganti rupiah yang lemah sudah mendorong turun cost untuk ekspatriat pada beragam tingkatan.”

Dan menggunakan metode penalaran induktif, berupa hubungan kausal akibat-sebab yang dibuktikan pada kalimat pertama paragraf 2 menyebutkan akibat lalu diikuti oleh sebab-sebab pada kalimat selanjutnya.

Paragraf 3 merupakan paragraf induktif, hal ini dibuktikan dengan adanya kalimat yang bersifat umum di akhir paragraf, yaitu

“Depresiasi mata uang mempunyai efek yang besar pada ekspatriat.”

Dan menggunakan metode penalaran induktif, berupa hubungan kausal akibat-sebab yang dibuktikan pada kalimat pertama paragraf 3 menyebutkan akibat lalu diikuti oleh sebab-sebab pada kalimat selanjutnya.

Paragraf 4 merupakan paragraf deduktif, hal ini dibuktikan dengan adanya kalimat yang bersifat umum di awal paragraf, yaitu

            “Tetapi, diantara negara-negara Asia Tenggara utama, Jakarta adalah kota termahal ketiga.”

Paragraf 5 merupakan paragraf induktif, hal ini dibuktikan dengan adanya kalimat yang bersifat umum di akhir paragraf, yaitu

“Digabungkan dengan fluktuasi mata uang lokal, masing-masing kota yaitu peringkat terbaik dengan cara global ataupun didalam wilayahnya.”

Paragraf 9 menggunakan metode penalaran induktif, berupa hubungan kausal akibat-sebab yang dibuktikan pada kalimat pertama paragraf 9 menyebutkan akibat lalu diikuti oleh sebab-sebab pada kalimat selanjutnya.

Penalaran


PENGERTIAN PENALARAN

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi(consequence).

CIRI-CIRI PENALARAN

Berikut ini merupakan ciri-ciri penalaran:
  1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis).
  2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.

Secara detail penalaran mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Logis, suatu penalaran harus memenuhi unsur logis, artinya pemikiran yang ditimbang secara objektif dan didasarkan pada data yang sahih.
 Analitis, berarti bahwa kegiatan penalaran tidak terlepas dari daya imajinatif seseorang dalam merangkai, menyusun atau menghubungkan petunjuk-petunjuk akal pikirannya ke dalam suatu pola tertentu.
 Rasional, artinya adalah apa yang sedang di nalar merupakan suatu fakta atau kenyataan yang memang dapat dipikirkan secara mendalam.

TAHAP-TAHAP PENALARAN

Menurut John Dewey, proses penalaran manusia dilakukan melalui beberapa tahap berikut:
  • Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal yang muncul secara tiba-tiba.
  •  Kemudian rasa sulit tersebut diberi definisi dalam bentuk permasalahan.
  •  Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka, hipotesis, inferensi atau teori.
  • Ide-ide pemecahan diuraikan secara rasional melalui pembentukan implikasi dengan cara mengumpulkan bukti-bukti (data).
  • Menguatkan pembuktian tentang ide-ide tersebut dan menyimpulkan melalui keterangan-keterangan ataupun percobaan-percobaan.

KONSEP DAN SIMBOL DALAM PENALARAN

Penalaran juga merupakan aktivitas pikiran yang abstrak, untuk mewujudkannya diperlukan simbol. Simbol atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud penalaran akan akan berupa argumen.

Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari premis.

Berdasarkan paparan di atas jelas bahwa tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.

METODE PENALARAN

1.      Penalaran Deduktif
Pernalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum dari pada proposisi tempat menarik kesimpulan itu disebut premis.
Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat  pula dilakukan secara tak langsung.
a.      Menarik Simpulan Secara Langsung
Simpulan (konklusi) secara langsung ditarik dari satu premis. Sebaliknya, konklusi yang ditarik dari dua premis disebut tak langsung.
Misalnya:
1.      Semua S adalah P (premis) Sebagian P adalah S (simpulan)
Contoh:
Semua ikan berdarah dingin. (premis)
Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)

2.      Tidak satu pun S adalah P (premis) Tidak satu pun P adalah S (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor nyamuk pun adalah lalat. (premis)
Tidak seekor lalat pun adalah nyamuk. (simpulan)

3.      Semua S adalah P (premis) Tidak satu pun S adalah tak-P (simpulan)
Contoh:
Semua rudal adalah senjata berbahaya. (premis)
Tidak satu pun rudal adalah senjata tidak berbahaya. (simpulan)

4.       Tidak satu pun S adalah P (premis) Semua S adalah tak-P (simpulan)
Contoh:
Tidak seekor pun harimau adalah singa. (premis)
Semua harimau adalah bukan singa. (simpulan)

5.      Semua S adalah P (premis) Tidak satu pun S adalah tak-P (simpulan) Tidak satu pun tak-P adalah S (simpulan)
Contoh:
Semua gajah adalah berbelalai. (premis)
Tidak satu pun gajah adalah tak berbelalai. (simpulan)
Tidak satu pun yang tak berbelalai adalah gajah. (simpulan)

b.      Menarik Simpulan Secara Tidak Langsung
Penalaran deduksi yang berupa penarikan simpulan secara tidak langsung memerlukan dua premis sebagai data. Dari dua premis ini akan dihasilkan sebuah simpulan. Premis yang  pertama adalah premis yang bersifat umum dan premis yang kedua adalah premis yang  bersifat khusus.

1.      Penalaran Deduktif
Pernalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum dari pada proposisi tempat menarik kesimpulan itu disebut premis.

a.      Silogisme Kategorial
Yang dimaksud dengan silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang  bersifat umum disebut premis mayor dan premis yang bersifat khusus disebut premis minor
Dalam simpulan terdapat subjek dan predikat. Subjek simpulan disebut term minor dan predikat simpulan disebut term mayor.

Contoh:
Semua manusia bijaksana (premis mayor)
Semua polisi adalah manusia (premis minor)
Jadi, semua polisi bijaksana (simpulan)

b.      Silogisme Hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis. Jika premis minornya membenarkan anteseden, simpulannya membenarkan konsekuen. Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
                               Contoh:
Jika besi dipanaskan, besi akan memuai. 
Besi dipanaskan. 
Jadi, besi memuai. 
Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai. 
Besi tidak dipanaskan. 
Jadi, besi tidak akan memujai.

c.       Silogisme Alternatif
Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Jika premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif yang lain.

Contoh:
Dia adalah seorang kiai atau professor. 
Dia seorang kiai. 
Jadi, dia bukan seorang professor. 
Dia adalah seorang kiai atau professor. 
Dia bukan seorang kiai. 
Jadi, dia seorang professor.

d.      Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang belum dikemukakakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
Semua sarjana adalah orang cerdas. 
Ali adalah seorang sarjana. 
Jadi, Ali adalah orang cerdas.

Dari silogisme ini dapat ditarik satu entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena dia  seorang sarjana”.

2.      Penalaran Induktif
Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain, simpulan yang diperoleh tidak lebih khusus daripada pernyataan (premis).

Penalaran induktif (prosesnya disebut induksi) merupakan proses penalaran untuk menarik suatu prinsip atau sikap yang berlaku untuk umum maupun suatu kesimpulan yang  bersifat umum berdasarkan atas fakta-fakta khusus.

a.      Generalisasi
Generalisasi adalah pernalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umum. Dari beberapa gejala dan data, kita ragu-ragu mengatakan bahwa “Lulusan sekolah A pintar-pintar.” Halini dapat kita simpulkan setelah beberapa data sebagai pernyataan memberikan gambaran seperti itu.

Contoh:
Jika dipanaskan, besi memuai. 
Jika dipanaskan, tembaga memuai. 
Jika dipanaskan, emas memuai. 
Jadi, jika dipanaskan, logam memuai.

b.      Analogi
Analogi adalah cara penarikan pernalaran dengan membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Contoh:
Nina adalah lulusan akademi A. 
Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik. 
Ali adalah lulusan akademi A.
Oleh sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

c.       Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah pernalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling  berhubungan. Misalnya, tombol ditekan, akibatnya bel berbunyi. Dalam kehidupan kita sehari-hari, hubungan kausal ini sering kita temukan. Seperti, hujan turun dan jalan-jalan becek.

Dalam kaitannya dengan hubungan kausal ini, tiga hubungan antar masalah yaitu sebagai berikut:
1.      Sebab – Akibat
2.      Akibat – Sebab
3.      Akibat – Akibat

SALAH NALAR

Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar ini disebabkan oleh ketidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Apabila kita perhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang kita temukan beberapa pernyataan atau premis tidak masuk akal. Kalimat-kalimat yang seperti itu disebut kalimat dari hasil salah nalar. Kalau kita pilah-pilah beberapa bentuk salah nalar itu, kita dapat membagi salah nalar itu dalam beberapa macam, yaitu sebagai berikut.

1.      Deduksi yang salah
2.      Generalisasi terlalu luas
3.      Pemilihan terbatas pada dua alternatif
4.      Penyebab yang salah nalar
5.      Analogi yang salah
6.      Argumentasi bidik orang
7.      Meniru-niru yang sudah ada
8.      Penyamarataan para ahli

SYARAT-SYARAT KEBENARAN DALAM PENALARAN

Jika seseorang melakukan penalaran, maksudnya tentu adalah untuk menemukan kebenaran. Kebenaran dapat dicapai jika syarat – syarat dalam menalar dapat dipenuhi.
  • Suatu penalaran bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang akan sesuatu yang memang benar atau sesuatu yang memang salah.
  • Dalam penalaran, pengetahuan yang dijadikan dasar konklusi adalah premis. Jadi semua premis harus benar. Benar di sini harus meliputi sesuatu yang benar secara formal maupun material. Formal berarti penalaran memiliki bentuk yang tepat, diturunkan dari aturan – aturan berpikir yang tepat sedangkan material berarti isi atau bahan yang dijadikan sebagai premis tepat.

Sumber: